Nah, sejak memutuskan maju dari Surakarta menuju Jakarta sebagai calon DKI-1, dilanjutkan dengan niat untuk maju sebagai Capres pada 2014 lalu sampai ditetapkan menjadi RI-1 Pakde Jokowi sangat sering menjadi “sasaran tembak” para lawan politiknya. Isu soal dirinya sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) , Anti Islam, dan Antek Asing menjadi seperti menu wajib yang kerap berulang.
Saya senang karena Pakde Jokowi akhirnya buka suara dan membahas dengan tuntas pada Minggu (7/10) lalu. Lewat siaran 30 menit di Net TV, Pakde Jokowi dengan elegan menjawab tudingan yang sering dialamatkan kepada beliau. Apa jawabannya?
SOAL ISU PKI. Pakde Jokowi berkata bahwa logika tuduhan itu “nggak masuk” karena beliau maupun keluarganya, bila ditelusuri, tak ada yang tersangkut gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) sedikitpun.
SOAL BELIAU ANTI ISLAM. Ini juga tak masuk akal. Beliau kerap bergaul dengan ulama dan kyai, juga sering bertemu pada habib dan ustad. “Anti-ulamanya di mana?” kata Pakde Jokowi. Merespons tudingan yang ini, Jokowi mengajak masyarakat tak asal menerima kabar hoaks tanpa melakukan kroscek. BENAR JUGA. Selama ini kita melihat fakta sebaliknya dari apa yang banyak dituduhkan kepada beliau.
Sebagai Capres petahana, tak lupa Pakde Jokowi berpesan agar pada masa kampanye ini lebih banyak diisi dengan adu program, gagasan, rekam jejak, dan adu prestasi. Hal yang beliau yakini akan dapat mendewasakan cara-cara berpolitik dan mematangkan masyarakat dalam berdemokrasi.
Ah, berat benar bahasa Bapak Jokowi dipahami oleh orang-orang yang masih menganggap bahwa kekuasaan adalah segalanya. Mana peduli mereka sama adu-adu program, rekam jejak, apalagi (ehm) prestasi yang selama ini dimiliki?
Ah, mana paham mereka bahwa cara berpolitik dan berdemokrasi dari masyarakat harus didewasakan? Wong jelas sudah terbukti salah saja tak cuma ngeles dan sama sekali nggak merasa bersalah, tapi malah berbalik menyalahkan pemerintahan Jokowi, kok! Kan kampret!
Ah, mana mau mereka melakukan cara-cara yang asyik dan seru dalam bersaing menuju RI-1 dan RI-2 pada tahun depan? Mana mau peduli dengan rakyat, karena bencana alam pun tega-teganya dipolitisasi dan bukannya dipakai sebagai ajang untuk menolong saudara sebangsanya yang sedang terkena musibah? Kalau benar kabar bahwa konsultan asing bernama “Rob Allyn” disewa untuk memenangkan Paslon tertentu dengan strategi hoaks yang masif, terstruktur, sistemanis, dan ngawur-ngawuran, tak bisa dibayangkan seandainya kelak mereka betulan berkuasa dan memimpin negeri ini selama 5 tahun ke depan.
Akhirnya ... sekalipun kecil peluangnya, izinkan saya berharap bahwa semakin menuju akhir 2018 dan mendekati Pilpres 2019 nanti, kampanye-kampanye yang dilakukan oleh kedua kubu tetap dalam koridor yang benar. Tentunya dengan cara-cara yang menyejukkan serta menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Jika cara-cara negatif yang dilakukan, seperti arahan Pakde Jokowi beberapa waktu lalu, tak ada kata lain kecuali: LAWAN! Lha wong sudah diam, masih diserang terus, bisa bonyok kalau nggak melawan. Betul?
Bravo Presidenku. Tetap sehat dan waspada. Kita akan terus kawal sampai kapan pun!

0 comments:
Post a Comment